kosakata apa yang paling banyak dibincang oleh masyarakat kita kahir-akhir ini ?, mulai dari ibu-ibu di tempat arisan, pangkalan ojek dan sopir, di kantor-kantor, para mahasiswa hingga nenek-kakek yang sudah ompong sekalipun membicarakan kosakata "POLITIK". ya.. politik, media massa telah berhasil 'membooming-kan' praktik politik (baca;pemilu, pemilukada) melampaui gosip 'terpanas selingkuhan artis ' atau ulah 'selingkuh bupati dengan wakilnya' dan sejumlah kasus-kasus yang sempat hot dibincang di media cetak dan elektronik.
Politik dalam arti sederhana adalah suatu ikhtiar untuk mencapai tujuan. politik dalam arti sempit dan banyak di anut oleh para politisi adalah, bagaimana merebut dan mempertahankan kekuasaan, dengan cara apapun, biasa disebut menghalalkan segala cara. nah, kalau memang begini kondisinya maka yang terjadi adalah persaingan, peperangan untuk meraih kekuasaan, akibatnya pasti ada yang menang, ada yang kalah. TIDAK mungkin terjadi win-win solution, NEVER kata Mario teguh.
politik itu seni, seni meraih dan mempertahankan kekuasaan, lebih tepat disebut strategi/taktis merebut kuasa. meskipun kerapkali seni dijadikan alat politisi, masih ingat kan, istilah seni untuk politik atau seni untuk seni,. benar yang mana ya..,. terserah penilaian Anda,tapi bagiku baik seni ataupun politik kalau ia telah membelenggu nalar dan imajinasi maka sebaiknya mencari alternatif agar nalar dan imajinasi bisa bebas-merdeka. :-P. Praktik memperebutkan kekuasaan bukan hanya terjadi di ruang negara, dalam praktik korporasi pun nampak. misalnya perang software antara Apple, microsoft, untuk menguasai pangsa pasar dan mearup untung tentunya.Bahkan generasi-generasi awal perang software yang terjadi kerap mempelintir kata-kata leonardo da Vinci, dalam film the Pirates of Silicon Valley, Steven Job (Apple) mengibarkan bendera bajak laut di depan kantornya (thinking_unsure).Tahukan bagaimana perilaku bajak laut.......!!!
lalu apakah kita mesti terjebak dan merelakan diri tenggelam dalam arena yang menjengkelkan bahkan memuakkan. menjengkelkan jika untuk mencapai tujuan (baca:kekuasaan)semata, fitnah dan kebohongan adalah santapan wajib oleh para politisi. Memuakkan jika para politisi itu memainkan dan mempermainkan IMAGINASI dan PIKIRAN kita, entah lewat Iklan ataupun media lainnya,di seret ke khayalan ilusi, janji-janji yang tak mungkin bisa mereka penuhi. lebih parah lagi dalam banyak kasus masyarakat kita dikonflikkan. Tujuannya bisa bermacam-macam, mengorbitkan(mempopulerkan) tokoh, atau militer perlu tambahan anggaran, atau mungkin dijadikan event oleh korporasi agar suatu regulasi(undang-undang) bisa berjalan mulus supaya media tidak sempat atau tidak menarik minat media meliput pembahasan undang-undang /aturan utamanya yang menyangkut harkat hidup orang banyak dan kontroversial (lihat hadirnya UU PMA, privatisasi air, migas dan pendidikan /BHP)serta kemungkinan-kemungkianan lain, yang kemungkinannya mendekati 99,9% ;-).
Politik memang kejam !,
demikian ungkap kebanyakan orang yang telah menjadi korban-korban politik. lalu, Adakah ruang politik yang tidak membutuhkan cost, korban yang besar. PASTI selalu ada solusi, demikian ajaran matematika.;-). Bukankah politik adalah seni mencapai tujuan. Seni itu indah, imajinatif, menggerakkan dan mampu menginspirasi banyak orang. Arena politik tidak mesti selalu dipanggung-panggung perebutan kekuasaan, politik juga bisa kita buat indah seindah cahaya rembulan di malam purnama, jika ia kita maknai sebagai ajang untuk memberi manfaat sebanyak mungkin kepada sebanyak-banyaknya orang, dimana kejujuran dan ketulusan adalah jubah kebesarannya. hal tersebut bisa kita wujudkan dalam praktik-praktik kolektif atau komunitas,organisasi mandiri, keluarga, dimana prinsip kerjasama kolektif, memberi manfaat, setiap orang bisa memberi saran usul dan rancangan kerja tanpa harus mengebiri hak individu orang yang "katanya demi kepentingan bangsa".Sebuah dunia tanpa tatanan kuasa-menguasai, tanpa WAKIL yang tak pernah mewakili kepentingan kita, tetapi brdasarkan kerelaan bekerjasama, karena tidak ada yang pantas menguasai atau mengontrol selain yang menciptakanMU.
Nah, jika politik kita maknai seperti paragraf terakhir di atas, maka setiap orang bisa berpolitik tanpa partai politik. Bisa berbuat baik kapan, dimana saja tanpa harus menunggu instruksi atasan, atau program kerja.
(nb, catatan kecil ini bisa dilanjutkan oleh siapa saja, pernah dimuat di zukozen.tk )
Posted in
Label:
anti pemerintah,
kemerdekaan,
politik
Jangan lagi berpikir berlebihan terkait dengan bentuk-bentuk pengorbanan saat ini !
Hampir dalam semua kebudayaan dan kepercayaan-kepercayaan ada sebuah ritual pengorbanan yg sakral dan berdimensi spiritual. Bentuk-bentuk ritual pengorbanan inipun menuntut keikhlasan sebagai manifestasi keyakinan akan ritual pengorbanan tersebut.
Namun, sejak manusia menggunakan uang maka ritual pengorbanan tak lagi sakral dan sudah sangat jauh dari dimensi spiritual. Uang yang pada awalnya hanya untuk mempermudah manusia dalam melakukan transaksi-transaksi ekonomi kini betul-betul telah mempermudah manusia dalam berbagai hal, termasuk ritual-ritual kebudayaan dan kepercayaan. Ritual pengorbanan juga tak luput dari sentuhan kemudahan uang. Uang telah hadir di tengah-tengah ritual pengorbanan dan kehadirannya sungguh-sungguh telah mempermudah ritual pengorbanqan dan ini tentunya sangat berkesesuaian dengan kegunaan uang dan sama sekali tidak melenceng dari fungsi uang itu sendiri.
Pengorbanan yang biasanya dekat dengan sesuatu yang paling dicintai sebagai konsekuensi atas kepercayaan yang diyakini kini tidak lagi menuntut hal itu. Meski ada kehadirann uang yang tidak secara langsung namun jika diuraikan secara terperinci maka akan terlihat betapa peran uang sangat besar didalamnya dan sangat mempermudah dalam melakukan ritual pengorbanan.
Awalnya mungkin hanya bertujuan mempermudah namun pada gilirannya kemudahan itulah yang menjadi prioritas bahkan tujuan. Tak ada lagi kesakralan karena semua sungguh sangat mudah, tak ada lagi keikhlasan karena pengorbanan tak berhubungan lagi dengan sesuatu yang sangat dicintai, kalaupun ada argumen bahwa pengorbanan saat ini tetaplah memerlukan keikhlasan hal ini ada benarnya jika posisi uang saat ini memanglah sesuatu yang sangat dicintai. Jika memang uang telah menjadi sesuatu yang sangat dicintai maka semuanya sudah sangat jelas, pengorbanan tak lagi berdimensi spiritual. Jika tidak demikian adanya maka untuk melihat keikhlasan manusia saat ini, pengorbanan yang harus dilakukan adalah pengorbanan jiwa dan raga (atau diri manusia secara totalitas) sebab jika bukan uang maka jiwa dan raga manusialah yang menjadi hal yang paling dicintai manusia-manusia saat ini.
…......
berapa harga seekor kambing ?
Saya bisa membeli seekor kambing sesuai dengan kemampuan saya untuk menunaikan ritual pengorbanan sebagai konsekuensi dari keyakinan saya dan saya ikhlas se-ikhlas ikhlas-nya.
…...... hahahahahahahahahahaha … sudahlah semua tak lagi berarti saat ini
Sumber Inspirasi :
Hari Perayaan Hari Raya Idul Qurban 2009
Kehidupan yang telah aku jalani
Buku “Sejarah Uang” Karya Jack Weatherford
Posted in
Beberapa hari lagi Lebaran, berduyun-duyun orang pulang ke kampung halaman tempat dimana secara biologis mereka dilahirkan. Mengunjungi orang tua, saudara, kerabat dan tetangga biologis mereka. Melihat itu semua sebuah pertanyaan muncul di kepala saya, adakah yang mudik ke kampung halaman jiwanya ? Tempat dimana jiwa murninya lahir. Tempat dimana jiwanya yang suci, liar dan genit masih terpelihara. Tempat dimana jiwanya belum tercemari oleh etika, moral, dan segala macam aturan yang diciptakan manusia untuk menguasai dan mengontrol yang lain. Tempat dimana segala macam peradaban belum mengotorinya.
Mungkinkah ada manusia yang mudik ke sana ? mungkinkah ada manusia yang pulang ke kampung halaman jiwanya, menziarahi orang tua jiwanya ?
Sesampai di kampung halaman tempat dimana secara biologis mereka dilahirkan, orang-orang bercerita banyak kepada bapak, ibu, saudara, kerabat, tetangga, teman-teman mereka tentang perjalanan hidupnya di perantauan. Mereka menceritakan pahit-getir kehidupan di perantauan. Mereka terkadang menangis atau tertawa di sela-sela cerita mereka. Begitulah romantisme pulang ke kampung halaman dimana mereka diliharkan secara biologis, namun adakah orang-orang yang kembali ke orang tua jiwanya sembari bercerita tentang pahit-getirnya kehidupan mereka sembari menangis atau tertawa ?
Semoga banyak jiwa-jiwa yang pulang ke kampung halamannya bertemu orang tua jiwa mereka dan semoga jiwa itu adalah jiwa-ku, jiwa-mu dan jiwa kita semua. Semoga jiwa-jiwa yang kembali tidak menjadikan kepulangan yang membahagiakan itu sebagai sesuatu yang semu seperti semu-nya kebahagiaan ketika pulang ke kampung halaman dimana mereka dilahirkan secara biologis.
Semoga saja***
Ini semua secara subjektif terlintas di pikiran kotorku saat menempuh perjalanan pulang ke rumah, diatas sebuah angkot sembari memperhatikan kesibukan orang-orang mempersiapkan diri menyambut lebaran. Hadir di sela-sela gambaran wajah-wajah lugu dan polos kemenakan-kemenakanku yang tak ku ketahui kelak mereka akan jadi apa, yang tak ku ketahui zaman yang nantinya akan mereka hadapi, yang tak ku ketahui kehidupan yang bagaimana yang akan mereka tempati hidup nantinya. aku hanya berharap jika mereka tak dapat atau tak ingin mengambil peran memperbaiki dunia yang rusak ini, semoga mereka tidak menjadi sumber bencana dan kehancuran bagi kehidupan ini.
Semoga saja
By : anonim*
* identitas penulis ada pada administrator
Posted in