(7.03.2008)


Karena sekarang banyak orang yang teriak "REVOLUSI !!!" maka kayaknya lagu Revolution-nya The Beatles harus di dengar lagi. Selain musiknya yang memang keren, lirik lagu ini juga radikal dan melampaui zamannya.
Tidak percaya ... Simak saja sendiri.



REVOLUTION

You say you want a revolution
Well you know
We all want to change the world
You tell me that it's evolution
Well you know
We all want to change the world
But when you talk about destruction
Don't you know you can count me out

Don't you know it's gonna be alright
Alright, alright

You say you got a real solution
Well you know
We don't love to see the plan
You ask me for a contribution
Well you know
We're doing what we can
But if you want money for people with minds that hate
All I can tell you is brother you have to wait

Don't you know it's gonna be alright
Alright, alright, al...

You say you'll change the constitution
Well you know
We all want to change your head
You tell me it's the institution
Well you know
You better free your mind instead
But if you go carrying pictures of Chairman Mao
You ain't going to make it with anyone anyhow

Don't you know know it's gonna be alright
Alright, alright

Alright, alright
Alright, alright
Alright, alright
Alright, alright



NB: Untuk kaum revolusioner, harap jangan tersinggung. Kalau tersinggung, yah sudahlah itu urusan anda.

Posted in

Ditengah banyak pengusaha-pengusaha asing yang berinfestasi di negeri ini, mengakibatkan banyak perusahaan-perusahaan yang dikuasai oleh pengusaha asing. Karena itulah maka kemunculan ide nasionalisasi aset-aset asing tentulah sebuah hal yang memang pantas hadir. Jika kita melihat sejarah maka kita akan menemkan fakta bahwa ide dan pelaksanaan nasionalisasi bukanlah hal yang baru. Dalam konteks indonesia, nasionalisasi pernah dilaksanakan pada era pemerintahan soekarno. Pegambil-alihan bank-bank belanda dan pabrik timah bangka adalah dua contoh nasionalisasi yang dilakukan oleh soekarno atas aset-aset asing. Di era soeharto, pengambil-alihan dan penguasaan aset-aset orang-orang cina oleh negara merupakan praktek dari ide nasionalisasi dalam konteks orde baru.


Secara sepintas tuntutan nasionalisasi adalah sebuah kemajuan berpikir dari para politisi setelah mengalami kemandulan pada tuntutan reformasi. Nasionalisasi sebagai reaksi atas proses kapitalisasi memang dapat memberikan harapan baru akan keadilan namun harus disadari bahwa nasionalisasi hanya akan memberikan harapan jika prasyarat-prasyarat nasionalisasi terpenuhi.
Kehadiran dewan-dewan pekerja yang akan menjadi pemilik dari aset-aset yang telah dinasioalisasi adalah salah satu syarat penting yang harus ada. Dengan adanya dewan-dewan pekerja maka nasionalisasi tidak akan berujung pada pengambil-alihan dan penguasaan aset-aset asing oleh negara. Jika pengambil-alihan dan penguasaan aset-aset asing oleh negara maka hal yang pasti tercipta adalah kapitalisme negara.
Sebelum dilaksanakan nasionalisasi, konsep nation (bangsa) harus jelas sehingga ketika kita berbicara tentang nasionalisasi maka kita tidak berbicara soal state (negara). Jika kita telah dapat memproporsionalkan pembicaraan nasionalisasi maka jelas kita akan berbicara seputar penguasaan aset-aset oleh rakyat dan bukan oleh negara. Penguasaan oleh rakyat ini kemudian akan menuntut adanya pembicaraan seputar pengelolaan, pembicaraan inilah yang mau tidak mau harus diselesaikan sebelum proses nasionalisasi dijalankan. Tanpa adanya konsep pengelolaan alternatif yang jelas maka kecenderungan yang muncul adalah kembalinya penguasaan oleh negara dan itu berarti jalan menuju kapitalisme negara akan kembali terbuka.

Posted in

Ketika para bangsawan sibuk berperang mengikuti nafsu keserahanan mereka guna memperluas daerah kekuasaan, mereka terus berdagang dan berdangan untuk mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya. Akibat dari peperangan yang berkepanjangan para bangsawan kehabisan biaya, lalu mendekatlah mereka menawarkan bantuan biaya maka jadilah mereka sekutu yang baik dimana mereka sebagai penyandang dana untuk membiaya angkatan perang si bangsawan dengan imbalan diberikannya mereka keleluasaan dibidang perdagangan. Waktu terus berjalan hingga mereka semakin mapan dan menuntutlah mereka persamaan hak diwilayah politik yang berarti tuntutan untuk diberi peluang berkuasa secara penuh atas tatanan social, lahirlah sisem demokrasi yang terus berkembang hingga lahirlah mekanisme pemilihan umum dan itu berari terbukalah peluang bagi mereka untuk berkuasa. Karena memiliki sumber daya yang sangat besar hasil dari proses pengumpulannya yang sangat lama, akhirnya merekalah yang menjadi penguasa menyingkirkan para bangsawan.
Kini mereka telah menguasai alat-alat produksi dan kekuasaan telah berada di tangan mereka. Penguasaan alat-alat produksi dan kekuasaan itu rupanya tidak memuaskan mereka karena pengetahuan manusia belum dapat mereka kuasai dan itu berarti penemuan-penemuan yang dapat lahir dari pengetahuan manusia masih bebas tak bertuan dan tidak ada jaminan mereka yang kelak akan menguasainya. Terbersitlah konsep kekuasaan pribadi atas ilmu pengetahuan yang berarti segala hasil dari ilmu pengetahuan itupun menjadi milik mereka. Lahirlah “Hak Atas Kekayaan Intelektual” (HAKI) sebagai solusi atas ancaman atas kekuasaan mereka. Dengan berbagai alasan (pembenaran) mereka menghasut orang-orang untuk mendukung konsep HAKI. Orang-orang yang terhasutpun membela mati-matian HAKI dengan harapan-harapan semu “adanya perlindungan hasil karya seseorang”, “adanya penghargaan atas hasil karya seseorang” dan lain-lain, dan lain-lain, dan lain-lain (semua harapan-harapan semu lainnya). Orang-orang itu tidak pernah sadar akan apa yang sebenarnya ada dibalik HAKI. Jika HAKI dibenarkan maka ketika seseorang memperbanyak sebuah buku dan menyebarkannya secara gratis karena menurutnya buku tersebut sangat bagus dan harus dibaca oleh semua orang maka orang tersebut akan dituntut karena melakukan pembajakan meskipun tujuannya sangat mulia (bukan profit). Jika suatu seseorang mengembangkan sebuah teknologi baru berdasarkan atas teknologi yang sudah ada maka diapun akan dituntut karena melakukan pembajakan atas hasil karya orang lain. Dengan demikian maka apakah ini yang akan membawa perkembangan dan perbaikan kehidupan masyarakat. Masalah lainnya adalah mengapa hasil karya seseorang harus selalu dihargai dengan hal-hal material (seperti uang). Kecenderungan manusia bukan pada uang melainkan berbuat untuk orang lain. Yang membuat manusia cenderung kepada uang adalah mereka yang memang sedari awal terus mengumpulkan kekayaan terus menerus. Praktek bekerjasama dan saling menolong mungkin saat ini sangat susah ditemukan prakteknya didunia nyata ini tapi paling tidak hal itu bukan lagi sebuah konsep yang absurd dan utopis sebab para aktivis open source telah menerapkan hal itu meski masih di dunia cyber dengan GPL-nya (Genegal Public Licence), dimana hasil-hasil karya mereka sepenuhnya ditujukan untuk membantu orang lain yang membutuhkan bukannya uang dan kepemilikannya diserahkan kepublik. Stallman (pendiri Free Software Foundation) mengatakan GPL berusaha melawan kepemilikan pribadi dengan konsep kepemilikan bersama oleh public. Menurutnya GPL tidak menolak hak paten, justru dengan hak paten itulah mereka melindungi karya-karya open source agar tetap free dan kepemilikannya tetap berada pada public, GPL melawan api dengan api. Linus (orang yang pertama kali membuat kernel yang memungkinkan lahirnya system operasi linux) pernah dalam sebuah wawancara ditanya “apakah dia tidak takut jika hasil karyanya dimanfaatkan orang lain sementara dia tidak mendapat keuntungan apa-apa ?” menjawab “untuk apa, bukankah aku sudah punya istri, anak, rumah, dan anak-anaknya dapat bersekolah. Apalagi.” Stallman, Linus, dan aktivis open source lainnya telah membuktikan bahwa kecenderungan manusia bukan pada materi (uang) melainkan keinginan untuk membantu orang lain. Salah satu pernyataan yang umum didalam dunia open source adalah “semakin banyak engkau menolong orang lain maka kaulah orang yang dianggap paling berguna dan paling layak untuk diberi penghormatan”. Dalam hal perkembangan, jika dibandingkan dengan close source maka open source memiliki perkembangan yang lebih baik karena dikerjakan secara bersama-sama oleh komunitas.


Berdasarkan apa yang telah diperlihatkan oleh aktivis open source maka tugas selanjutnya adalah membawa konsep GPL kedalam kehidupan sehari-hari agar betul-betul lebih bermanfaat bagi kehidupan social bukan lagi hanya di dunia cyber.

Open Source Harus Menjadi Gaya Hidup Sehari-hari.
R Stallman

Kepemilikan Pribadi Adalah Pencurian.
Proudon


Posted in